Postingan Populer

Tampilkan postingan dengan label Suara Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suara Santri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 November 2013

HINDARI MISUNDERSTANDING DUNIA PESANTREN (UPAYA REKONSTRUKSI KESEIMBANGAN LULUSAN PESANTREN)

Oleh : Azam Syukur Rahmatullah, S.H. M.Si
Ustadz Pondok Pesantren Al-Kamal, Gombong, Kebumen, Jawa Tengah

Sebab bagaimanapun, pesantren telah menjadi pelopor pendidikan di bumi nusantara ini. Dengan bahasa lain pesantren inilah yang menjadi cikal-bakal legal-formal dari dunia pendidikan di Indonesia. Sehingga, wajar saja bila nama pesantren sudah cukup familiar di telinga siapapun dan di kalangan manapun.Mendengar nama pesantren dalam dunia akademis kiranya sudah tidak asing lagi keberadaannya.
Besarnya dunia pesantren tentunya diiringi pula dengan besarnya cobaan-cobaan yang menerpa. Baik kecil maupun besar, yang salah satu bentuk cobaan tersebut adalah “ketimpangan asumsi atau perspektif’. Hal yang paling mencolok dari “ketimpangan asumsi atau perspektif masyarakat” ini adalah mereka yang menyatakan bahwa “dunia pesantren adalah dunianya kaum teroris” atau pula dunia pesantren adalah dunia yang dikhususkan untuk anak-anak nakal, bandel dan beremosi negatif taraf tinggi, serta masih banyak lagi asumsi-asumsi non sense lainnya. Sedangkan, asumsi itu muncul, mungkin saja dikarenakan ketidaktahuan (unknown) mereka atas dunia pesantren yang sesungguhnya.
Dari berbagai misunderstanding atas dunia pesantren ini, ada satu hal yang menarik bagi penulis, yang kiranya bukan merupakan suatu aib jika dibahas, yakni perihal kesalahpahaman para wali santri pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya yang menyatakan bahwa dunia pesantren adalah dunianya Gatot Kaca, dunia pesantren adalah Kawah Candra Dimuka. Jadi, sudah pasti mereka yang keluar dari pesantren akan jadi orang besar, mereka pasti akan jadi kiyai, atau mereka pasti akan disegani masyarakat dan pula mereka pasti akan menjadi pembesar-pembesar masyarakat.
Demikianlah asumsi yang seringkali penulis dengar dari bibir-bibir para wali santri maupun masyarakat kebanyakan. Makanya tidak heran ketika adanya santri yang melenceng dari kaidah-kaidah kepesantrenan (al-qawa’idu al ma’ahid) maupun kaidah­-kaidah normativisme (al-qawa’idu al-islamiyah), mereka-yang berasmnsi keliru akan berujar begini : “Mana tanggung jawab pesantren? Sehingga banyak santri yang gagal menjadi orang, banyak santri yang tidak disegani ummat, banyak santri yang tanpa gelar kiyai, dan banyak santri yang menjadi penjudi dan sampah naasyarakat. Di mana peran pesantren yang sesungguhnya dalam membentuk dan menjadikan para lulusan santri yang berkualitas? Sehingga masih banyak santri yang bukan santri”. Begitulah, kira-kira bentuk protes yang seakan-akan menyalahkan pihak pesantren–dari mereka yang begitu besar menaruh harapan atas dunia pesantren.
Berpijak dari uraian di atas itulah perlu penulis tekankan di sini bahwa dunia pesantren bukanlah dunia yang penuh kepastian. Bahwa setelah keluar dari pesantren pasti akan menjadi kiyai atau ustad, yang semuanya terkesan serba menggiurkan (fantasticly). Dunia pesantren juga bukan dunia yang pengobral janji (al-kholiyu al­kalam), yang akan memberikan janji-janjinya kepada para santrinya bahwa jika masuk pesantren maka dijamin akan sukses, dijamin akan jadi kiyai, ustadz, ajengan atau apalah bentuknya. Sekali lagi penulis tegaskan tidak?
Dalam hal ini, pesantren hanyalah perantara (al-wasilah), pesantren hanyalah petunjuk jalan, dan pesantren hanyalah lahan “pengarahan”, yang sukses atau tidaknya santri tetap kembali kepada santri itu sendiri. Berhasil atau tidaknya santri ditentukan oleh seberapa besar pengaruh ajaran-ajaran kepesantrenan yang diresapinya, jika seorang santri memang belajar dengan sesungguhnya, tanpa adanya paksaan dan keterpaksaan, serta senantiasa mengedepankan nilai-nilai masa depan, maka niscaya santri tersebut akan cenderung ber-value positif-aktif-progresif. Dan besar kemungkinannya, akan mendapatkan gelar “santri yang mumtaz”, baik mumtaz dalam ranah kognitif, maupun mumtaz dalam ranah aplikatif, afektif dan psikomotorik. Dan tentu saja santri yang demikian diharapkan akan mudah mendapatkan kepercayaan ummat.
Namun berbeda, di kala pesantren sudah berupaya sekuat mungkin menunjukan jalan-jalan kebaikan dan kesuksesan di masa mendatang, di kala pesantren sudah berupaya membimbing santri ke jalan kebaikan (al-birr), dan di kala pesantren sudah berusaha mengarahkan santri ke jalan kemuliaan diri (karimatu an-nafs), namun, sebaliknya yang terjadi justru santri itu sendiri yang “ogah-ogahan”, dan cenderung stagnan-pasif dan tidak mau berkembang (sulit diajak maju), bahkan tidak sedikit yang cenderung menantang aturan ma’had, dan sebagainya. Hal demikian tentu saja akan sangat merugikan pihak santri itu sendiri. Kenakalan, kemalasan, dan kebandelan mereka justru akan menjadi bumerang bagi kehidupan diri semasa di pondok maupun sesudahnya. Padahal pihak pesantren tidak letih-letihnya berupaya mengajak mereka kembali ke ranah al-birr.
Jika sudah demikian, jangan heran jika muncul istilah “santri murtad”, alias “santri tapi bukan santri” atau “santri mbalelo“, yang efeknya bagi si santri semakin jauh dari kepercayaan ummat, semakin jauh dari posisi orang besar dan akan semakin jauh pula dari ” gelar kehormatan dunia-akhirat.
Karenanya, tidak bijak jika masyarakat pada umumnya dan wali santri pada khususnya menggantungkan 100% kepastian akan keberhasilan anaknya pada pesantren, dan tidak bijak pula jika menyalahkan pesantren di kala apa yang diharapkan (expectation) berupa kepastian keberhasilan seorang anak tidak sesuai dengan kenyataan (actual). Sebab bagaimanapun juga keberhasilan santri ada pada santri itu sendiri, pesantren hanya sebagai jembatan saja.
Oleh karena itu, yang terbaik untuk memunculkan para lulusan santri mumpuni maka kedua pihak antara pesantren-santri harus aktif-konstruktif tidak pasif-destruktif dan saling menyadari pentingnya nilai-nilai (values) kepesantrenan dan berbagai ajarannya.

Ref :
http://daurahkebudayaan.wordpress.com/

PESANTREN HARUS PERCAYA DIRI



Oleh : KH. Mahfudz Ridwan, Lc
(Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Edi Mancoro, Salatiga, Jawa Tengah)
Pesantren adalah sebuah wacana yang hidup, selagi mau memperbincangkannya-pesantren senaniasa menarik, segar dan aktual. Akan tetapi perlu dicatat, bahwa menyimak pesantren adalah laksana masuk ke hutan belantara. Sebab, pesantren mempunyai wajah yang multi dimensi dan kaya akan khazanah-khazanah yang sulit untuk dituangkan dalam teks yang bisa dibaca oleh setiap orang-orang. Sampai-sampai ada suatu guyonan bahwa agen intelejen sekelas CIA yang memiliki reputasi internasional serta mempunyai sistem kerja yang canggih sekalipun acapkali sulit menyandang informasi yang ada di pesantren gara-gara setiap kali rapat tidak ada nominasinya. Walaupun penuh dengan segala kelebihan dan kekurangannya, yang menaik adalah pesantren senantiasa percaya diri dalam menghadapi tantangan di luar dirinya.
Pesantren memang unik dan ekslusif. Dalam banyak perspektif, pesantren selalu menampakkan wajah yang terkesan tradisional, klasik serta apa adanya. Namun, tidak dapat dipungkiri dengan citra wajah yang muncul seperti itu, justru tidak lapuk dimakan zaman. Bahkan di tengah gempuran arus globalisasi yang kian menggila dan hedonisme masyarakat yang kian meningkat, pesantren tetap mampu memikat sebagai komunitas masyarakat untuk tetap dijadikan sebagai tempat menuntut ilmu. Pola kepemimpinan yang masih tetap mengandalkan kharisma kiyai serta keikhlasan dalam pengajaran justru diyakini oleh sebagian masyarakat kita sebagai sebuah metode yang paling efektif dalam menimba ilmu. Inilah yang kemudian oleh sebagian masyarakat kita dinamai sebagai “barokah” menuntut ilmu. Karena itu, jika dilihat dengan teleskop antropologis, pesantren dapat dibaca dalam berbagai aspek. Sebagai lembaga pendidikan, namun di sisi lain pesantren juga bisa sebagai sebuah identitas masyarakat yang strategis.
Namun berbicara mengenai pesantren, kita tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarah egois yang menggiurkan. Kita harus tetap melakukan kritik dan autokritik terhadap pesantren itu. Sebagai sebuah entitas masyarakat yang strategis, pesantren justru gagal dalam mengemban misi perubahan bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Pesantren hadir seolah-olah sebagai sebuah bangunan tua yang berdiri “diam” dengan aroma kewibawaannya. Jarang kita temukan pesantren yang menjadi tempat transaksi gagasan dan segala persoalan yang bisa dikunjungi oleh masyarakat untuk saling bertukar pikiran baik antar masyarakat dan santri, maupun masyarakat dengan kiyai. Satu-satunya yang kita temukan bahwa pesantren hari ini hanya ibarat tempat hilir mudiknya santri untuk mengaji kitab kuning dengan rutinitas melakukan dialog bersama masyarakat dalam pemecahan problem-problem sosial yang menghimpit mereka. Kenapa bisa demikian?
Pesantren Harus Melakukan Pemberdayaan Masyarakat
Salah satu yang harus dilakukan pesantren untuk menjawab persoalan-pesoalan yang menghimpit masyarakat, bahwa pesantren harus tampil percaya diri (PD) dalam melakukan pemberdayaan masyarakat. Walaupun ketika berbicara mengenai pemberdayaan masyarakat kita sangat sulit untuk memulai. Namun untuk melakukan itu semua sebagai upaya penguatan civil society di Indonesia paling tidak ada beberapa prasyarat yang harus dibutuhkan. Di antaranya seperti yang pernah digagas pesantren Edi Mancoro; pertama, melakukan liberalisasi pandangan terhadap Islam sebagai upaya mendukung pluralisme, konstruksi teologi dan gerakan yang mampu memfasilitasi terwujudnya gagasan sosial yang berwatak ideologi emansipatorik. Hal ini mengingat bahwa potensi kekuatan Islam kultural yang bergerak di luar negara sangatlah kuat.
Kiat ulama pesantren yang menjadi entitas utama di wilayah Islam kultural sejak dekade terakhir ini sudah menumbuhkan semangat untuk melakukan kontekstualisasi ajaran agama dengan membuka pikiran dari luar. Tinggal yang belum dilakukan adalah mendorong ke arah yang lebih praktis dalam pemberdayaan masyarakat seperti buruh, nelayan, petani, kaum miskin kota, anak jalanan dan lain sebagainya. Sehingga ekselerasi yang seimbang ini akan memunculkan kekuatan yang luar biasa dalam melakukan perubahan di masyarakat. Namun, akankah pesantren mampu memikul amanah itu?
Hanya kita (kalangan pesantren) yang bisa menjawab..!!
Ref:
http://daurahkebudayaan.wordpress.com/

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review