Postingan Populer

Senin, 18 November 2013

KH. AGUS SALIM (MASHUDUL HAQ)

Haji Agus Salim lahir dengan nama Mashudul Haq yang berarti "pembela kebenaran". Dia Lahir di Kota Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884. Dia menjadi anak keempat Sultan Moehammad Salim, seorang jaksa di sebuah pengadilan negeri. Karena kedudukan ayahnya Agus Salim bisa belajar di sekolah-sekolah Belanda dengan lancar, selain karena dia anak yang cerdas. Dalam usia muda, dia telah menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing; Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman. Pada 1903 dia lulus HBS (Hogere Burger School) atau sekolah menengah atas 5 tahun pada usia 19 tahun dengan predikat lulusan terbaik di tiga kota, yakni Surabaya, Semarang, dan Jakarta.

Karena itu, Agus Salim berharap pemerintah mau mengabulkan permohonan beasiswanya untuk melanjutkan sekolah kedokteran di Belanda. Tapi, permohonan itu ternyata ditolak. Dia patah arang. Tapi, kecerdasannya menarik perhatian Kartini, anak Bupati Jepara. Sebuah cuplikan dari surat Kartini ke Ny. Abendanon, istri pejabat yang menentukan pemberian beasiswa pemerintah pada Kartini: “Kami tertarik sekali kepada seorang anak muda, kami ingin melihat dia dikarunia bahagia. Anak muda itu namanya Salim, dia anak Sumatera asal Riau, yang dalam tahun ini, mengikuti ujian penghabisan sekolah menengah HBS, dan ia keluar sebagai juara. Juara pertama dari ketiga-tiga HBS! Anak muda itu ingin sekali pergi ke Negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali, keadaan keuangannya tidak memungkinkan.”

Lalu, Kartini merekomendasikan Agus Salim untuk menggantikan dirinya berangkat ke Belanda, karena pernikahannya dan adat Jawa yang tak memungkinkan seorang puteri bersekolah tinggi. Caranya dengan mengalihkan beasiswa sebesar 4.800 gulden dari pemerintah ke Agus Salim. Pemerintah akhirnya setuju. Tapi, Agus Salim menolak. Dia beranggapan pemberian itu karena usul orang lain, bukan karena penghargaan atas kecerdasan dan jerih payahnya. Salim tersinggung dengan sikap pemerintah yang diskriminatif. Apakah karena Kartini berasal dari keluarga bangsawan Jawa yang memiliki hubungan baik dan erat dengan pejabat dan tokoh pemerintah sehingga Kartini mudah memperoleh beasiswa?


Belakangan, Agus Salim memilih berangkat ke Jedah, Arab Saudi, untuk bekerja sebagai penerjemah di konsulat Belanda di kota itu antara 1906-1911. Di sana, dia memperdalam ilmu agama Islam pada Syech Ahmad Khatib, imam Masjidil Haram yang juga pamannya, serta mempelajari diplomasi. Sepulang dari Jedah, dia mendirikan sekolah HIS (Hollandsche Inlandsche School), dan kemudian masuk dunia pergerakan nasional. Karir politik Agus Salim berawal di SI, bergabung dengan HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis pada 915. Ketika kedua tokoh itu mengundurkan diri dari Volksraad sebagai wakil SI akibat kekecewaan mereka terhadap pemerintah Belanda, Agus Salim menggantikan mereka selama empat tahun (1921-1924) di lembaga itu. Tapi, sebagaimana pendahulunya, dia merasa perjuangan “dari dalam” tak membawa manfaat. Dia keluar dari Volksraad dan berkonsentrasi di SI.







Pada 1923, benih perpecahan mulai timbul di SI. Semaun dan kawan-kawan menghendaki SI menjadi organisasi yang condong ke kiri, sedangkan Agus Salim dan Tjokroaminoto menolaknya. Buntutnya SI terbelah dua: Semaun membentuk Sarekat Rakyat yang kemudian berubah menjadi PKI, sedangkan Agus Salim tetap bertahan di SI. Karier politiknya sebenarnya tidak begitu mulus. Dia pernah dicurigai rekan-rekannya sebagai mata-mata karena pernah bekerja pada pemerintah. Apalagi, dia tak pernah ditangkap dan dipenjara seperti Tjokroaminoto. Tapi, beberapa tulisan dan pidato Agus Salim yang menyinggung pemerintah mematahkan tuduhan-tuduhan itu. Bahkan dia berhasil menggantikan posisi Tjokroaminoto sebagai ketua setelah pendiri SI itu meninggal dunia pada 1934.
Selain menjadi tokoh SI, Agus Salim juga merupakan salah satu pendiri Jong Islamieten Bond. Di sini dia membuat gebrakan untuk meluluhkan doktrin keagamaan yang kaku. Dalam kongres Jong Islamieten Bond ke-2 di Yogyakarta pada 1927, Agus Salim dengan persetujuan pengurus Jong Islamieten Bond menyatukan tempat duduk perempuan dan laki-laki. Ini berbeda dari kongres dua tahun sebelumnya yang dipisahkan tabir; perempuan di belakang, laki-laki di depan. ”Ajaran dan semangat Islam memelopori emansipasi perempuan,” ujarnya. Agus Salim pernah menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada akhir kekuasaan Jepang. Ketika Indonesia merdeka, dia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Kepiawaiannya berdiplomasi membuat dia dipercaya sebagai Menteri Muda Luar Negeri dalam Kabinet Syahrir I dan II serta menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta. Sesudah pengakuan kedaulatan Agus Salim ditunjuk sebagai penasehat Menteri Luar Negeri.

Dengan badannya yang kecil, di kalangan diplomatik Agus Salim dikenal dengan julukan The Grand Old Man, sebagai bentuk pengakuan atas prestasinya di bidang diplomasi.
Sebagai pribadi yang dikenal berjiwa bebas. Dia tak pernah mau dikekang oleh batasan-batasan, bahkan dia berani mendobrak tradisi Minang yang kuat. Tegas sebagai politisi, tapi sederhana dalam sikap dan keseharian. Dia berpindah-pindah rumah kontrakan ketika di Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta. Di rumah sederhana itulah dia menjadi pendidik bagi anak-anaknya, kecuali si bungsu, bukan memasukkannya ke pendidikan formal. Alasannya, selama hidupnya Agus Salim mendapat segalanya dari luar sekolah. ”Saya telah melalui jalan berlumpur akibat pendidikan kolonial,” ujarnya tentang penolakannya terhadap pendidikan formal kolonial yang juga sebagai bentuk pembangkangannya terhadap kekuasaan Belanda. Agus Salim wafat pada 4 November 1954 dalam usia 70 tahun.

Dalam teori komunikasi, pola berpikir seseorang dipengaruhi oleh latar belakang hidup di lingkungannya. Seorang tokoh yang berperan dalam gerakan moderen Islam di Indonesia, Agus Salim, memiliki pola berpikir yang dipengaruhi oleh lingkungannya dalam hal sosial-intelektual. Dia adalah anak dari pejabat pemerintah yang juga berasal dari kalangan bangsawan dan agama. Jadi, sejak kecil ia hidup di lingkungan yang penuh dengan nuansa-nuansa keagamaan. Setelah menyelesaikan studi sekolah pertengahannya di Jakarta, dia bekerja untuk konsulat Belanda di Jeddah (1906-1909). Di sini dia mempelajari kembali lebih dalam tentang Islam, kendatipun dia memberi pengakuan: “meskipun saya terlahir dalam sebuah keluarga Muslim yang taat dan mendapatkan pendidikan agama sejak dari masa kanak-kanak, [setelah masuk sekolah Belanda] saya mulai merasa kehilangan iman.”
Walaupun demikian, tidak berarti bahwa Agus Salim adalah seorang yang anti-nasionalisme. Perjuangannya dalam mempersiapkan kemerdekaan bangsa kita adalah bukti bahwa dia adalah seorang yang berjiwa nasionalisme. Perjuangan Agus salim dalam meraih kemakmuran bagi rakyat Indonesia patut kita apresiasi bersama sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, kenikmatan hidup saat ini yang kita rasakan di Indonesia tak lain dan tak bukan adalah hasil jerih payah dari para pejuang kemerdekan dan alangkah lebih baik apabila perjuangan mereka di masa lalu dapat kita hayati untuk merevitalisasi semangat dalam diri menggali secara konsisten khazanah-khazanah keislaman, kemoderenan, dan keindonesiaan.

referensi :

- http://www.pkesinteraktif.com/edukasi/sosok/854-biografi-dan-pemikiran-agus-salim-1884-1954.html
- http://id.wikipedia.org/wiki/Agus_Salim

KH. Ahmad Dahlan





KH Akhmad Dahlan, seorang ulama besar Indonesia, tokoh pembaru praktek keagamaan di Indonesia dan pendiri Pendiri Muhammadiyah 1912
Muhammadiyah. Penerobos tradisi-tradisi lama dalam praktek agama Islam. Membetulkan arah kiblat masjid-masjid di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta, dan penggagas pelajaran pengetahuan umum masuk sekolah-sekolah agama. Memurnikan agama Islam dari percampuran dengan agama Hindu, Budha, animisme, dinamisme, dan kejawen. Sempat dituduh sebagai kyai palsu dan diancam dibunuh oleh um'mat yang belum setuju dengan pembaruan yang diajarkannya. Ia juga pernah dituduh sebagai orang yang menyesatkan karena berani mengajarkan pengetahuan umum di sekolah agama.

Ia menjadi anggota Boedi Oetomo dan aktif mengajar tokoh-tokoh nasionalis di dalamnya yang kemudian berperan sangat besar dalam sejarah kebangkitan nasional abad 20-an. Kini, pembaruan yang diajarkannya telah diakui oleh hampir seluruh umat muslim di Tanah Air maupun dunia. Namanya pun begitu harum dan tidak akan termakan zaman.

Awal abad duapuluh, boleh dikatakan kehidupan beragama umat Islam Indonesia sedang dalam keadaan mundur. Di antara um'mat tidak ada persatuan sehingga um'mat menjadi lemah. Begitu juga dengan ajaran agama, banyak sekali dipengaruhi oleh hal-hal berbau mistik. Melihat keadaan demikian, KH Akhmad Dahlan merasa prihatin. Dalam benaknya, beliau berkesimpulan bahwa untuk memajukan umat Islam di Indonesia harus dilakukan pembaruan di bidang praktik keagamaan. Pembaruan itu sendiri harus dimulai dengan cara mengadakan perbaikan di bidang kemasyarakatan.

Kyai Dahlan kemudian merealisasikan rencananya tapi dengan cara yang cukup berbeda dari para ulama umumnya. Jika ulama lain dalam melakukan pendidikan biasanya melalui pondok pesantren atau kitab karangannya, namun KH Pendiri Muhammadiyah 1912
Ahmad Dahlan melakukannya melalui sebuah organisasi.

Kiai kelahiran Kauman, Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta yang awalnya bekerja sebagai ketib (khatib) keraton Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta, ini memperhatikan arah kiblat di masjid keraton dan Yogyakarta umumnya tidak benar. Maka pertama-tama, beliau berusaha membetulkan arah kiblat di Masjid Sultan di Keraton Yogyakarta ke arah yang sebenarnya yaitu dari yang sebelumnya mengarah ke Barat menjadi ke Barat Laut, namun ketika itu pihak keraton menolak.

Kecewa pada pihak keraton yang tidak membolehkannya membetulkan kiblat di masjid keraton tersebut, Kiai Dahlan ingin meninggalkan kota kelahirannya tersebut, tetapi salah seorang keluarganya menghalangi niatnya itu dengan membangun mushala lain. Di situlah beliau dapat mengajarkan dan mempraktekkan ajaran agama serta keyakinannya.

Upaya membetulkan arah kiblat terus dilakukan. Di masjid besar Yogyakarta, beliau membuat garis-garis saf menurut yang semestinya. Namun masyarakat ketika itu menjadi gempar dan marah. Garis-garis saf yang dibuatnya itu sempat dihapus orang bahkan surau miliknya dibongkar.

Bersama kawan-kawannya, beliau juga memperbaiki kondisi higienis di daerah Kauman. Ia ingin membersihkan umat Islam secara fisik maupun mental spiritual.

Dengan maksud mengajar agama, pada tahun 1909 Kiai Dahlan masuk Boedi Oetomo - organisasi yang melahirkan banyak tokoh-tokoh nasionalis. Di sana beliau memberikan pelajaran-pelajaran untuk memenuhi keperluan anggota.

Pelajaran yang diberikannya terasa sangat berguna bagi anggota Boedi Oetomo sehingga para anggota Boedi Oetomo ini menyarankan agar Kiai Dahlan membuka sekolah sendiri yang diatur dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari nasib seperti pesantren tradisional yang terpaksa tutup bila kiai pemimpinnya meninggal dunia.

Saran itu kemudian ditindaklanjuti Kiai Dahlan dengan mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Pendiri Muhammadiyah 1912
Muhammadiyah pada 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330). Organisasi ini bergerak di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Melalui organisasi inilah beliau berusaha memajukan pendidikan dan membangun masyarakat Islam.

Bagi Kiai Dahlan, Islam hendak didekati serta dikaji melalui kacamata modern sesuai dengan panggilan dan tuntutan zaman, bukan secara tradisional. Beliau mengajarkan kitab suci Al Qur'an dengan terjemahan dan tafsir agar masyarakat tidak hanya pandai membaca ataupun melagukan Qur'an semata, melainkan dapat memahami makna yang ada di dalamnya. Dengan demikian diharapkan akan membuahkan amal perbuatan sesuai dengan yang diharapkan Qur'an itu sendiri.

Menurut pengamatannya, keadaan masyarakat sebelumnya hanya mempelajari Islam dari kulitnya tanpa mendalami dan memahami isinya. Sehingga Islam hanya merupakan suatu dogma yang mati.

Di bidang pendidikan, Kiai Dahlan lantas mereformasi sistem pendidikan pesantren zaman itu, yang menurutnya tidak jelas jenjangnya dan tidak efektif metodenya lantaran mengutamakan menghafal dan tidak merespon ilmu pengetahuan umum.

Maka Kiai Dahlan mendirikan sekolah-sekolah agama dengan memberikan pelajaran pengetahuan umum serta bahasa Belanda. Bahkan ada juga Sekolah Pendiri Muhammadiyah 1912
Muhammadiyah seperti H.I.S. met de Qur'an. Sebaliknya, beliau pun memasukkan pelajaran agama pada sekolah-sekolah umum. Kiai Dahlan terus mengembangkan dan membangun sekolah-sekolah. Sehingga semasa hidupnya, beliau telah banyak mendirikan sekolah, masjid, langgar, rumah sakit, poliklinik, dan rumah yatim piatu.

Kegiatan dakwah pun tidak ketinggalan. Beliau semakin meningkatkan dakwah dengan ajaran pembaruannya. Di antara ajaran utamanya yang terkenal, beliau mengajarkan bahwa semua ibadah diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi Muhammad SAW. Beliau juga mengajarkan larangan ziarah kubur, penyembahan dan perlakuan yang berlebihan terhadap pusaka-pusaka keraton seperti keris, kereta kuda, dan tombak. Di samping itu, beliau juga memurnikan agama Islam dari percampuran ajaran agama Hindu, Budha, animisme, dinamisme, dan kejawen.

Di bidang organisasi, pada tahun 1918, beliau membentuk organisasi Aisyiyah yang khusus untuk kaum Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita. Pembentukan organisasi Aisyiyah, yang juga merupakan bagian dari Muhammadiyah ini, karena menyadari pentingnya peranan kaum Lihat Daftar Tokoh Perempuan
wanita dalam hidup dan perjuangannya sebagai pendamping dan partner kaum pria.

Sementara untuk pemuda, Kiai Dahlan membentuk Padvinder atau Pandu - sekarang dikenal dengan nama Pramuka - dengan nama Hizbul Wathan disingkat H.W. Di sana para pemuda diajari baris-berbaris dengan genderang, memakai celana pendek, berdasi, dan bertopi. Hizbul Wathan ini juga mengenakan uniform atau pakaian seragam, mirip Pramuka sekarang.

Pembentukan Hizbul Wathan ini dimaksudkan sebagai tempat pendidikan para pemuda yang merupakan bunga harapan agama dan bangsa. Sebagai tempat persemaian kader-kader terpercaya, sekaligus menunjukkan bahwa Agama Islam itu tidaklah kolot melainkan progressif. Tidak ketinggalan zaman, namun sejalan dengan tuntutan keadaan dan kemajuan zaman.

Karena semua pembaruan yang diajarkan Kyai Dahlan ini agak menyimpang dari tradisi yang ada saat itu, maka segala gerak dan langkah yang dilakukannya dipandang aneh. Sang Kiai sering diteror seperti diancam bunuh, rumahnya dilempari batu dan kotoran binatang. Ketika mengadakan dakwah di Banyuwangi, beliau diancam akan dibunuh dan dituduh sebagai kiai palsu. Walaupun begitu, beliau tidak mundur. Beliau menyadari bahwa melakukan suatu pembaruan ajaran agama (mushlih) pastilah menimbulkan gejolak dan mempunyai risiko. Dengan penuh kesabaran, masyarakat perlahan-lahan menerima perubaban yang diajarkannya.

Tujuan mulia terkandung dalam pembaruan yang diajarkannya. Segala tindak perbuatan, langkah dan usaha yang ditempuh Kiai ini dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Islam itu adalah Agama kemajuan. Dapat mengangkat derajat umat dan bangsa ke taraf yang lebih tinggi. Usahanya ini ternyata membawa dampak positif bagi bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Banyak golongan intelektual dan pemuda yang tertarik dengan metoda yang dipraktekkan Kiai Dahlan ini sehingga mereka banyak yang menjadi anggota Muhammadiyah. Dalam perkembangannya, Muhammadiyah kemudian menjadi salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia.

Melihat metoda pembaruan KH Pendiri Muhammadiyah 1912
Ahmad Dahlan ini, beliaulah ulama Islam pertama atau mungkin satu-satunya ulama Islam di Indonesia yang melakukan pendidikan dan perbaikan kehidupan um'mat, tidak dengan pesantren dan tidak dengan kitab karangan, melainkan dengan organisasi. Sebab selama hidup, beliau diketahui tidak pernah mendirikan pondok pesantren seperti halnya ulama-ulama yang lain. Dan sepanjang pengetahuan, beliau juga konon belum pernah mengarang sesuatu kitab atau buku agama.

Muhammadiyah sebagai organisasi tempat beramal dan melaksanakan ide-ide pembaruan Kiai Dahlan ini sangat menarik perhatian para pengamat perkembangan Islam dunia ketika itu. Para sarjana dan pengarang dari Timur maupun Barat sangat memfokuskan perhatian pada Muhammadiyah. Nama Kiai Haji Akhmad Dahlan pun semakin tersohor di dunia.

Dalam kancah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, peranan dan sumbangan beliau sangatlah besar. Kiai Dahlan dengan segala ide-ide pembaruan yang diajarkannya merupakan saham yang sangat besar bagi Kebangkitan Nasional di awal abad ke-20.

KH Akhmad Dahlan lahir 1 Agustus 1868 di Kauman, Yogyakarta. Beliau bernama kecil Muhammad Darwis. Merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara putra K.H. Abu Bakar bin Kiai Sulaiman, seorang khatib di Masjid Sultan. Ibunya bernama Siti Aminah, putri dari Haji Ibrahim, seorang penghulu kesultanan.

Kiai Dahlan menimba berbagai bidang ilmu dari banyak kiai yakni KH. Muhammad Shaleh di bidang ilmu fikih; dari KH. Muhsin di bidang ilmu Nahwu-Sharaf (tata bahasa); dari KH. Raden Dahlan di bidang ilmu falak (astronomi); dari Kiai Mahfud dan Syekh KH. Ayyat di bidang ilmu hadis; dari Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock di bidang ilmu Al-Quran, serta dari Syekh Hasan di bidang ilmu pengobatan dan racun binatang.

Ketika dalam pencarian ilmu, Kiai Dahlan pernah sekamar dengan KH.Hasyim Asy'ari, ulama besar pendiri Pendiri Nahdlatul Ulama 1926
Nahdlatul Ulama. Pengalaman sekamar tersebut terjadi selagi belajar kepada KH. Sholeh Darat di Semarang. KH. Sholeh Darat, juga merupakan guru dari salah seorang Lihat Daftar Pahlawan Nasional
pahlawan Nasional Indonesia yakni Raden Ajeng Mendirikan sekolah wanita di Jepara dan Rembang
Kartini.

Dalam sejarah, beliau tercatat dua kali berangkat ke tanah suci, Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, sekaligus menuntut ilmu agama. Masih di usia 21 tahun, Kiai Dahlan sudah berangkat ke Mekkah. Selama setahun beliau belajar di Mekkah. Salah seorang gurunya di sana adalah Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, ulama asal Padang yang menjadi Imam Masjidil Haram ketika itu.

Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi ini juga merupakan guru dari beberapa ulama besar di tanah air di antaranya, KH. Hasyim Asy'ari, pendiri NU ; Haji Abdul Karim Amrullah - ayahanda dari Ulama, Politisi dan Sastrawan Besar
Buya Hamka ; Syekh Muhammad Djamil Djambek, keduanya pendiri gerakan Kaoem Moeda di Sumatra Barat; dan Haji Anggota PPPKI, DPA dan Menlu RI
Agus Salim, Wakil Ketua Syarikat Islam dan Pembina Jong Islamieten Bond.

Dari Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi ini pulalah Kiai Dahlan berkenalan dengan pemikiran trio reformis Sayid Jamaluddin Al Afghani-Syekh Muhammad Abduh-Syekh Muhammad Rasyid Ridha.

Pada tahun 1909, Kyai Dahlan masuk Boedi Oetomo. Kemudian mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912. Beliau memimpin Muhammadiyah sampai tahun 1923 kemudian digantikan oleh KH. Ibrahim.

Pada usia 66 tahun, tepatnya pada tanggal 23 Februari 1923, Kiai Haji Akhmad Dahlan wafat di Yogyakarta. Beliau kemudian dimakamkan di Karang Kuncen, Yogyakarta.

Atas jasa-jasa Kiai Haji Akhmad Dahlan maka negara menganugerahkan kepada beliau gelar kehormatan sebagai Lihat Daftar Pahlawan Nasional
pahlawan Kemerdekaan Nasional. Gelar kehormatan tersebut dituangkan dalam SK Lihat Daftar Presiden Republik Indonesia
Presiden RI No.657 Tahun 1961, tgl 27 Desember 1961. e-ti
© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/295-pahlawan/655-bapak-muhammadiyah
Copyright © tokohindonesia.com

PERAN SANTRI DALAM PERCATURAN POLITIK PADA MASA PERGERAKAN NASIONAL



            Indonesia adalah sebuah Negara yang lahir setelah sekian lama terjajah. Belanda sebagai sebuah
Zaman terakhir kekuasaan Belanda ditandai dengan pertumbuhan cepat kesadaran diri secara politik yang merupakan hasil dari perubahan sosial dan ekonomi, pendidikan Barat, dan gagasan pembaharuan Islam. Pada masa ini mulai masuk dan diterimanya gagasan-gagasan baru. Zaman ini kemudian disebut sebagai masa kebangkitan nasional.
Negara telah menanamkan kekuasaannya di Indonesia cukup lama. Cukup lama hingga membuat Belanda menjadi Negara yang makmur dan rakyat Indonesia menderita. Belanda melakukan penindasan dan penjajahan terhadap bangsa Indonesia yang makin lama makin kuat kekuasaannya. Perbuatan Belanda sangat bertentangan dengan nilai agama Islam dan nilai Prikemanusiaan serta keadilan.  Setelah sekian lama menghadapi situasi yang merugikan masyarakat Indonesia, rakyat pun bangkit. Perlawanan-perlawanan terhadap kekuasaan Belanda dilancarkan, baik melalui jalur perlawanan bersenjata maupun tidak.

Kekuatan Santri

 
          
            Santri, dalam perkembangan zaman, mempunyai arti yang berubah. Di Jawa Tengah sampai tahun dua puluhan, santri merupakan istilah yang mengacu pada murid atau siswa sebuah pesantren. Akan tetapi, di daerah kota istilah santri mengacu kepada para Muslimin Jawa yang tinggal di daerah pesantren yang dinamakan kauman.
           Istilah santri pada awalnya memang mengacu pada siswa atau murid sebuah pesantren. Namun dalam arti yang lebih luas, istilah santri ini mengacu kepada para Muslim yang menyatakan kebaktian yang sungguh-sungguh kepada Islam dengan cara menjalankan ibadah. Arti kata yang lebih luas ini yang akan digunakan dalam tulisan ini.
         Kelestarian penjajahan tentu saja merupakan cita-cita utama yang dimiliki oleh Belanda. Sejalan dengan itu, maka kebijaksanaan di bidang pendidikan sekalipun menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi. Pendidikan Barat kemudian diformulasikan sebagai suatu faktor yang akan menghancurkan kekuatan Islam di Indonesia.
         Upaya penguasaan seluruh wilayah Indonesia, oleh kaum santri dimanfaatkan untuk menumbuhkan kesadaran pada diri tentang adanya musuh bersama. Gerakan membangkitkan kesadaran akan rasa cinta tanah air, bangsa dan agama. Kondisi penjajahan dan penindasan yang dialami oleh rakyat Indonesia telah melahirkan pemahaman pada diri bahwa Islam identik dengan kebangsaan atau nasionalisme.
Perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia yang berbasis Islam merupakan sebuah bukti bahwa Islam merupakan agama pemersatu. Hal ini menandakan bahwa peranan politik inti umat Islam yaitu kaum kiai, ulama dan santri menjadi sangat penting. Diawali dengan membangun organisasi pemasaran, Sarikat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1905.

Perubahan tatanan jajahan dari sistem imperialisme kuno ke imperialisme modern mengakibatkan berubah pula bentuk perjuangan yang dilakukan. Tidak lagi melancarkan perlawanan bersenjata. Begitu pun dengan santri.

Partai Politik Santri

         Dalam perjuangan membela bangsa, Negara dan menegakkan Islam di Indonesia, Umat Islam mendirikan berbagai organisasi dan partai politik dengan corak dan warna yang berbeda-beda. Ada yang bergerak dalam bidang politik, sosial budaya, pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Namun semuanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu memajukan bangsa Indonesia khususnya umat Islam dan melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Tercatat dalam sejarah, bahwa dari lembaga-lembaga tersebut telah lahir para tokoh dan pejuang yang sangat berperan baik di masa perjuangan mengusir penjajah, maupun pada masa pembangunan.
           Pendidikan Barat yang diselenggarakan Pemerintah Hindia Belanda tumbuh bersama munculnya elite Hindia Belanda seperti tersebut di atas tidak banyak memberi arti langsung bagi kemajuan rakyat jajahan di daerah ini. Adanya ketentuan-ketentuan mengenai seleksi yang ketat bagi anak-anak orang Indonesia yang dapat memperoleh pendidikan di sekolah-sekolah pemerintah Belanda tersebut serta munculnya elite Hindia Belanda yang tidak dapat diterima oleh masyarakat sehingga menimbulkan kebencian kepada Belanda merupakan hal-hal yang menyebabkan pendidikan Barat yang diselenggarakan oleh Belanda tersebut sekedar untuk memenuhi keperluan mendesak untuk kepentingan Hindia Belanda di Indonesia.timbulnya pendidikan Hindia Belanda ini menggugah bangkitnya golongan ulama yang merupakan kelompok elite religius untuk bergerak menandingi kegiatan Belanda.
           Para santri membanggakan diri bahwa Sarekat Islam merupakan gerakan nasional modern pertama yang diorganisasi di Indonesia. Sarekat Islam telah memelopori dalam gerakan melawan penjajahan Belanda dan dalam kurun waktu yang cukup singkat dapat mencapai hasil yang sangat baik dalam menghimpun rakyat. Sebab bagi rakyat Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam, Islam bukan hanya menjadi sebuah keyakinan saja akan tetapi juga merupakan faktor nasionalisme, sebuah unsur yang menyatukan rakyat Indonesia, sehingga mereka kemudian bersatu untuk melawan penjajahan Belanda.
Dibawah pimpinan H.O.S. Cokroaminoto organisasi ini semakin berkembang karena mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Daya tarik utamanya adalah asas keislamannya. Dengan SI mereka (umat Islam) yakin akan dibela kepentingannya.
            Keanggotaan SI terbuka untuk semua golongan dan suku bangsa yang beragama Islam. Berbeda dengan Budi Utomo yang membatasi keanggotaannya pada suku bangsa tertentu (Jawa).
Pada akhir tahun 1920-an perbedaan-perbedaan dasar telah didefinisikan secara terbuka antara partai nasionalis yang didukung oleh para abangan dengan Sarekat Islam yang didukung oleh kaum santri. Persaingan antara partai-partai tersebut mengakibatkan putusnya hubungan antara pemimpin Islam, yaitu antara santri dan golongan abangan. Pada tahun 1929, Sarekat Islam mengubah namanya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) sebagai hasil politiknya yang menolak bekerja sama dengan pihak Belanda.
Gerakan pembaharuan Islam dari Mesir rupanya juga turut mempengaruhi situasi pada saat itu. Akibatnya timbul perpecahan dalam paguyuban-paguyuban santri antara para fundamental modern dengan tradisionalis kolot. Sejak itu, para pemimpin Muslim terbagi dalam dua macam. Cendekiawan muslim yang berpendidikan Barat dan para kiai dan ulama tradisional. Organisasi pembaharu terpenting yang merupakan fundamentalis modern adalah Muhammadiyah. Organisasi ini didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 18 November 1912.

Muhammadiyah dan NU

            Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang berakidah Islam
Sebagai reaksi, sebuah Organisasi sosial keagamaan yang dipelopori oleh para ulama atau kiyai didirikan. Mereka itu ialah K.H.Hasyim Asy’ari, K.H.Wahab Hasbullah, K.H.Bisri Syamsuri, K.H.Mas Alwi, dan K.H.Ridwan. Kedua organisasi ini mempunyai organisasi pendamping untuk wanita maupun pemuda, serta pendidikan.
          Ketiga tokoh tersebut belajar di Mekkah di saat ide Muhammad Abduh dan paham Wahabi banyak diperbincangkan. K.H. Hasyim Asy’ari menyetujui ide Muhammad Abduh agar umat Islam segera bangkit dari dunia yang beku. Sekembalinya dari Mekkah, ia bermukim di Tebuireng, Jombang mengasuh pesantren yang dibangung oleh ayahnya sendiri.[6]
         Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun lebih, para santri, sebagai kekuatan politik, telah berhasil mengunjukkan kekuatannya dan menghentikan campur tangan pemerintah Belanda. Guna memperbesar kekuatan politik Islam dan memperkecil jurang pemisah anatar fundamentalis modern dan tradisionalis konservatif, maka Muhammadiyah dan NU, menjadi sponsor bagi berdirinya sebuah federasi Islam, yaitu MIAI, Majelis Islam A’la Indonesia (Majelis Islam Tertinggi di Indonesia).
MIAI ini sebenarnya berdiri pada masa pemerintahan Belanda, yaitu tanggal 21 September 1937 di Surabaya sebagai organisasi federasi yang diprakarsai oleh K.H. Mas Mansur, K.H. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), K.H. Wahab Hasbullah (NU) dan Wondoamiseno (PSII).
Tujuan didirikan MIAI ini adalah agar semua umat Islam mempunyai wadah tempat membicarakan dan memutuskan semua soal yang dianggap penting bagi kemaslahatan umat dan agama Islam. Keputusan yang diambil MIAI harus dilaksanakan oleh semua organisasi yang menjadi anggotanya. Pembentukan MIAI mendapat sambutan dari berbagai organisasi Islam di Indonesia seperti PSII, Muhammadiyah, dan NU.
Pada masa penjajahan Jepang, kedudukan kaum santri relatif terangkat. Ini disebabkan Jepang melihat potensi kaum santri yang dapat digunakan untuk mobilisasi pengusiran Belanda dari Indonesia. MIAI, embrio Masyumi, merupakan pusat mobilisasi kaum santri yang disokong oleh Jepang. Namun, setelah Jepang hengkang, kaum santri kembali terpinggirkan. Kedudukan puncak dalam stratifikasi politik kembali diambil alih oleh kaum priyayi dan abangan.
         Ketika Jepang datang ke Indonesia seluruh organisasi yang ada di Indonesia dibekukan, termasuk MIAI. Tapi khusus MIAI tanggal 4 September 1942 diperbolehkan aktif kembali. Jepang melihat bahwa MIAI bersifat kooperatif dan tidak membahayakan. Selain itu Jepang berharap dapat memanfaatkan MIAI ini untuk memobilisasi gerakan umat Islam guna menopang kepentingan penjajahannya.
       Meskipun pada awalnya MIAI tidak menyentuh kegiatan politik, tetapi dalam perkembangan selanjutnya kegiatan-kegiatannya tidak bisa lagi dipisahkan dengan politik yang bisa membahayakan pemerintah Jepang. Akhirnya pada tanggal 24 Oktober 1943 MIAI dibubarkan. Sebagai gantinya berdirilah Masyumi.
         Pada masa pendudukan Jepang, kaum santri lebih diberikan kelonggaran oleh pemerintah Jepang daripada para nasionalis. Tuntutan-tuntutan dari kaum Muslimin lebih didengarkan oleh pemerintah Jepang daripada kaum nasionalis. Kekuasaan Jepang berusaha menggunakan agama untuk tujuan perangnya sendiri. Sebab pihak Jepang menganggap Islam merupakan sarana yang efektif untuk dapat diterima dengan baik oleh rakyat Indonesia yang merupakan Negara dengan mayoritas berpenduduk Muslim.
        Jepang juga membantu perkembangan kehidupan agama. Kantor urusan agama yang pada masa Belanda diketuai oleh seorang orientalis Belanda, diubah oleh Jepang menjadi Shumubu (Kantor Urusan Agama) yang dipimpin oleh orang Indonesia, yaitu K.H. Hasyim Asy’ari. Umat Islam pada saat itu juga diizinkan membentuk Hizbullah yang memberikan pelatihan kemiliteran bagi para pemuda Islam, yang dipimpin oleh K.H.Zaenal Arifin. Demikian pula diizinkan mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang dipimpin oleh K.H. Wahid Hasyim, Kahar Muzakir dan Moh. Hatta. MIAI berkembang menjadi organisasi yang cukup penting pada masa pendudukan Jepang. Para tokoh Islam dan para Ulama memanfaatkannya sebagai tempat bermusyawarah membahas masalah-masalah yang penting yang dihadapi umat Islam.
              Selama masa pendudukan Jepang, terjadi persaingan yang sangat jelas antara golongan Muslimin dan nasionalis. Pimpinan Islam Indonesia bertentangan dengan para nasionalis yang berpendidikan Barat. Persaingan antara kekuatan politik Islam sekuler dan nasionalis tidak hanya terjadi pada masa pendudukan Jepang saja akan tetapi masih tetap berlangsung setelah kemerdekaan.

dan bersumber pada al-Quran dan Sunnah. Sifat gerakannya adalah non-politik, tapi tidak melarang anggotanya memasuki partai politik. Hal ini dicontohkan oleh pendirinya sendiri, KH Ahmad Dahlan, dimana beliau juga adalah termasuk anggota Sarekat Islam.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review